Bisakah Ekonomi mikro mengentaskan kemiskinan ?
HANIF CAHYO AK, MA
Dalam sebuah perbincangan beberapa tahun lalu dengan salah seorang teman, ada sebuah pertanyaan menggelitik yang diajukan kepada saya ? kenapa kemiskinan masih ada ? bahkan semakin bertambah. Sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008 jumlah penduduk miskin adalah sebesar 36,17 juta jiwa (16,7 persen). Hal ini didasarkan pada asumsi tingkat KHM (Kebutuhan Hidup Minimum) Rp. 123.000/bulan. Sementara kalau menurut ukuran ILO (Internasional labour Organization) standar hidup layak adalah Rp. 1.000.000 dengan komponen yang harus dipenuhi adalah pendidikan, kesehatan, rekreasi dll. Artinya kalo kita menggunakan standar ini otomatis akan terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin di indonesia sekita kali lipat atau sekitar 100 juta penduduk yang miskin atau hampir separuh total penduduk.
Bagaimana cara kita sekarang untuk menyelesaikan persoalan tersebut ? dibutuhkan sebuah gerakan yang memang konkret dan terasa imbasnya di masyarakat. Salah satu aspek yang terkadang kita lupakan adalah bahwa sektor ekonomi indonesia paling besar adalah sektor menengah dan mikro sekitar 80 %. Dengan potensi pasar yan begitu besar ternyata belum banyak di optimalkan oleh lembaga-lembaga keuangan dalam hal ini adalah perbankan. Hal ini wajar dikarenakan adanya beberapa kendala seperti peraturan – peraturan dll. Beberapa langkah yang bisa dilakukan diantaranya adalah membuat lembaga- lembaga mikro yang benar-benar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat menengah. Salah satunya adalah dengan adanya baitul Maal wat tamwil (BMT) yang menggunakan asas koperasi. Banyak “bukti” yang sudah ditorehkan lembaga-lembaga mikro khususnya BMT. Disaat krisis mendera, peran strategis BMT dalam pemberdayaan masyrakat mikro semakin terasa.
Sekedar mengingatkan, ketika kondisi perekonomian makro sedang krisis, pertumbuhan BMT baik dari sisi tumbuhnya lembaga BMT ataupun kinerja lembaga sangat baik. Mengutip yang disampaikan oleh Agustianto, dalam satu dasawarsa pertama (1995 – 2005), di Indonesia telah tumbuh dan berkembang lebih dari 3.300 BMT, dengan asset lebih dari Rp 1,7 triliun, melayani lebih dari 2 juta penabung dan memberikan pinjaman terhadap 1,5 juta pengusaha mikro dan kecil. BMT sebanyak itu telah mempekerjakan tenaga pengelola sebanyak 21.000 orang. (Data Pinbuk, 2005).
Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa dari sisi pemberdayaan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga sangat significant. Bahkan banyak BMT yang dari sisi asset sudah bisa menyamai Bank Perkreditan Rakyat baik yang konvensional maupun syariah.
Peran strategis BMT bisa juga dilihat dari konsep operasionalnya. BMT terdiri dari dua unit kerja atau bidang garapnya. Baitul maal sebagai bidang garap sosial dengan back-up dana Zakat, infaq dan shadaqah. Sementara baitul tamwil mempunyai orientasi sebagai usaha yang mempunyai keuntungan (profit).
Akhirnya point penting yang bisa kita simpulkan adalah kemiskinan bisa di berantas dengan pola ekonomi yang pas. Tidak kalah pentingnya adalah bahwa kemiskinan terjadi bisa bukan karena faktor kemalasan, tetapi lebih kepada kurang adanya ruang (baca: lembag-lembaga keuangan)yang bisa di akses oleh pelaku ekonomi menengah dan mikro. Seperti yang disampaikan oleh Muhammad Yunus, penggagas Grameen bank bahwa kemiskinan terjadi bukan karena kemalasan tetapi karena permasalahan struktural, ketiadaan modal. Sistem ekonomi yang berlangsung membuat kelompok masyarakat miskin tidak mampu menabung. Akibatnya, orang miskin tidak dapat melakukan investasi bagi pertumbuhan usahanya. Sementara mereka memerlukan dana operasional yang tidak bisa ditunda, sehingga alternatif tercepat adalah lari ke rentenir.sementara rentenir memberikan bunga sekitar 10% - 15 % bagi pinjaman yang diberikannya. Sehingga, bagaimanapun juga orang miskin bekerja keras dirinya tak dapat keluar dari garis kemiskinan dan semakin terjerat. Jadi peran BMT sebagai lembaga mikro bisa menjadi “asa” bagi pelaku ekonomi mikro untuk menarik gerbong kemandirian dn kesuksesannya sendiri.
Konsultasi dan informasi berkaitan dengan ke-BMT-an atau pengembangan sumber daya insani (SDI) atau kelembagaan bisa di tujukan dan diakses lewat:
1. e-mail : binaummah.institute@gmail.com
2. Blog : www.konsultanbmt.blogspot.com
1 komentar:
ass...mas mau tanya kalo misalnya kita mau mengetahui tentang ekonomi islam lebih lanjut...bisa mengadakan pelatihannya? makasih...sofi (Lombok)
Posting Komentar